Tampilkan postingan dengan label Legend. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legend. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

RATU KALINYAMAT JEPARA

Diposting oleh Brovo45 di 01.00 0 komentar

RATU KALINYAMAT : RATU JEPARA YANG PEMBERANI

Oleh : Chusnul Hayati
Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro, Semarang

Abstract

Ratu Kalinyamat or Queen of Jepara was women Indonesian figure who had important role in politic and economic activities in Nusantara in the 16th century. She had original name was Retno Kencono. She was daughter of  Sultan Trenggana, king of Demak Kingdom who ruled in the medium of 16th century. In 1544 Sultan Trenggana sent Ratu Kalinyamat to asked support from King Banten for territorial expansion of Demak Kingdom in East Java.  Ratu Kalinyamat ruled in Jepara since 1549, changed her husband, Pangeran Hadiri, as king of  Jepara.  In 1551 she sent military expedition  to helped King of Johor attacked Portugis in Malaka. In 1574 she sent military expedition again to drived away  Portugis in Malaka fort helped King of Aceh. As long as ruled in Jepara she developed Jepara as international harbor successfully. She also  pioneered carving as the specific art of Jepara, after that it’s become important economic activity in Jepara.  Ratu Kalinyamat died in 1579.


I. PENGANTAR
Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian "gagah berani" seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani. Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa. Di samping itu, selama 30 tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya (Diego de Couto, 1778-1788).
Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang  menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trenggana, Raja Demak ke tiga. Sultan Trenggana adalah  putra Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak.
Selama 30 tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka. Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa. Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).
Uraian singkat di bawah ini akan menjelaskan tentang :
1.         Siapakah tokoh Ratu Kalinyamat?
2.         Bagaimana riwayat hidup Ratu Kalinyamat?
3.         Bagaimana peranan Ratu Kalinyamat dalam sejarah Indonesia sehingga ia dipandang sebagai tokoh yang besar jasanya bagi bangsa Indonesia?

B. SIAPA TOKOH RATU KALINYAMAT?
Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama  Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Dalam  sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta. Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangeran Hadiri,  bahkan Sultan Prawata, raja Demak ke empat.
Ratu Kalinyamat adalah putri Pangeran Trenggana dan cucu Raden Patah, sultan Demak yang pertama.Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Retna Kencana yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.  Retna Kencana kemudian  tampil sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak. Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi  yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549. Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.
Adanya gelar ratu menunjukkan bahwa di lingkungan istana kedudukannya cukup tinggi dan menentukan. Lazimnya gelar itu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu, misalnya seorang raja wanita, permaisuri, atau puteri sulung raja. Babad Demak Jilid 2 menempatkan Ratu Kalinyamat sebagai puteri sulung Sultan Trenggana. Kalau ini benar, berarti gelar ratu sudah sepantasnya melekat padanya. Sebagai puteri sulung raja, ia disebut Ratu Pembayun. Pernyataan ini memiliki kesesuaian dengan sumber Portugis.  Seorang musafir  Portugis yang bernama Fernao Mendez Pinto (1510-1583) menerangkan, ketika ia datang di Banten pada tahun 1544, datang lah utusan Raja Demak, seorang wanita bangsawan tinggi bernama Nyai Pombaya. Besar kemungkinan yang dimaksudkan adalah  Ratu Pembayun. Dengan demikian gelar ratu itu diperoleh dari ayahnya, dan bukan berasal dari suaminya yang hanya seorang penguasa daerah setingkat adipati.
Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trenggana  mempunyai enam orang putra. Putra sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangeran Langgar, putra Ki Ageng Sampang dari Madura. Putra ke dua seorang laki-laki yang bernama Pangeran Prawata yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga. Putra ke tiga seorang putri yang menikah dengan Pangeran Kalinyamat. Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang pangeran dari Kasultanan Cirebon.  Putra ke lima juga putri menikah dengan Raden Jaka Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah Pangeran Timur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat (Sudibyo, Z.H., 1980 : 62).
      Dalam sumber-sumber sejarah Jawa Barat, dijumpai nama Ratu Arya Japara, atau Ratu Japara untuk menyebut nama Ratu Kalinyamat (Hoesein Djajadiningrat, 1983: 128). Sementara itu  Serat Kandhaning Ringgit Purwa menyebutkan bahwa Sultan Trenggana berputra lima orang. Putra pertama hingga ke empat adalah   putri sedang putra bungsunya laki-laki. Putri sulung bernama Retna Kenya yang menikah dengan Pangeran Sampang dari Madura, putri ke dua adalah Retna Kencana yang menikah dengan Kyai Wintang, putri ke tiga adalah Retna Mirah menikah dengan Pangeran Riyo, putri ke empat seorang putri, dan putra bungsunya bernama Pangeran Prawata (Serat Kandhaning Ringgit Purwa. KGB No 7: 257). Dari sumber ini terungkap bahwa Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana. Suaminya, Kyai Wintang mempunyai sebutan lain Pangeran Hadiri/Pangeran Hadirin atau  Pangeran Kalinyamat (P.J. Veth, 1912).  
             Ratu Kalinyamat dapat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani.  Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak. Walau pun Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya. Menurut sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa, ternyata ia menjadi pusat keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai berai sesudah meninggalnya Sultan Trenggana dan Sultan Prawata.
Ratu Kalinyamat adalah seorang raja perempuan yang bertempat tinggal di Kalinyamat, suatu daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada. Kalinyamat kira-kira 18 kilo meter dari Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke Jepara-Kudus. Pada abad ke-16 Kalinyamat menjadi tempat kedudukan raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga dipakai sebagai nama penguasanya. Th. C. Leeuwendal, Asisten Residen Jepara dalam Oudheidkundig Verslag 1930 menjelaskan mengenai lokasi kraton Kalinyamat dengan menggunakan berita dari Diego de Couto. Peta Karesidenan Kalinyamat terletak kira-kira 2 pal sebelah selatan Krasak dan di sebelah barat jalan besar Kudus-Jepara.
  Sementara itu P.J. Veth (1912) mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjadi tempat kedudukan Ratu Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekas kebesaran masa lalu. Meski pun penduduk setempat dan para pegawai sama sekali tidak tahu  tempat yang tepat dari  bekas istana, tetapi setiap orang berbicara mengenai Ratu Kalinyamat.  Di berbagai desa seperti Purwogondo, Robayan, Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu Kalinyamat. Ada dugaan Krian mungkin merupakan tempat para "rakriya" (para bangsawan). Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan, pada hal tidak ada lagi orang Cina yang bertempat tinggal di situ. Kemudian diketahui bahwa desa Robayan dan beberapa desa lainnya masih memakai nama Kauman. Di tempat-tempat tertentu orang masih menyebutnya dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak di tengah-tengah tanah tegalan. Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lama yang diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi. Di sana sini terdapat benteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton kira-kira meliputi sepanjang jalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan, yang pada tahun 1900-an merupakan garis batas antara onderdistrik Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek. Di kebanyakan tempat, tembok-tembok kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempat yang disebut Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan, sementara di  tempat lain menunjukkan  adanya tempat mandi. Dengan melalui penggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya dinding-dinding benteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa ratus meter. Di tempat itu juga ditemukan fondasi-fondasi yang terbuat dari batu bata yang lebih kecil ukurannya dari pada emplasemen Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambili  dan dimanfaatkan oleh penduduk.  
 Di samping itu P.J. Veth memperoleh temuan penting dari berita Portugis mengenai "Cerinhama" atau "Cherinhama" yang disebut sebagai ibukota sebuah kerajaan laut atau kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 pal ke pedalaman. Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang menjadi tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara. (Veth III, 1882 : 762).
Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara. Sumber-sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan terdapat semacam istana raja (koninghof). Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan.

C. BIOGRAFI RATU KALINYAMAT
Sejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora. Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.
          Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangeran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwa ia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah.  Waktu kecilnya bernama Pangeran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar Pangeran Hadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara)
          Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangeran Toyib diutus oleh Sultan Aceh  untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak. Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan iman, serta berani menentang penjajah Portugis.         Setelah mengetahui asal-usul Raden Toyib, hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan  ayahnya bahwa pria yang akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal dari negeri seberang. Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Raden Toyib.
          Pada masa mudanya Pangeran Toyib mengembara ke negri Cina. Di sana ia bertemu dengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon, ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara. Setelah menikah dengan Ratu kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hrie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadi Pangeran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’, duwung ‘tajam’). Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukuir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan. Ialah yang  mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.
          Pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangeran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati  Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangeran Hadiri pada tahun 1549 yang dibunuh oleh utusan Arya Penangsang. Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawoto yang juga tewas di tangan Arya Penangsang. Untuk menghadapi amukan Arya Penangsang,  Ratu Kalinyamat bertapa di Gelang Mantingan, kemudian pindah ke Desa Danarasa, lalu berakhir di tempat Donorojo, Tulakan, Keling Jepara.
          Setelah kematian Ario Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa
Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini terjadi dengan ditandai adanya sengkalan Trus Karya Tataning Bumi, yang diperhitungkan sama dengan tanggal 12 Rabiul Awal atu 10 April 1549. Selama masa kekuasaannya, Jepara semakin berkembang menjadi Bandar terbesar di pantai utara Jawa, dan memiliki armada laut yang besar serta kuat.
Dalam perkawinanannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapa anak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangeran Timur, yang berusia masih sangat muda ketika Sultan Trenggana meninggal. Setelah dewasa, Pangeran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun (G. Moedjanto, 1987 : 155 dan Sartono Kartodirdjo, 1987: 129).
      Dalam Sejarah Banten tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangeran Arya, putera Maulana Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak, Pangeran Ratu ( Hoesein Djajadiningrat, 1983 : 128). Menurut historiografi Banten, Maulana Hasanuddin dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak. Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan Trenggana. Maulana Hasanuddin kawin dengan  putri  Sultan Trenggana. Dari perkawinannya itu lahir dua orang putra, yang pertama Maulana Yusuf dan yang ke dua Pangeran Jepara. Yang terakhir ini disebut demikian karena kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara. Selama di Jepara, Pangeran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah bibinya meninggal, ia memegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangeran Jepara (H.J. de Graaf, 1986: 129).  Masa pemerintahannya dan peranannya dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitu menonjol seperti bibinya.
Tidak disebutkan dengan jelas apa alasannya Pangeran Arya  dikirim ke Jepara untuk dididik oleh bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat dipandang mampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan berpengaruh. Adakalanya pendidikan putra raja diserahkan kepada keluarga raja yang bertempat tinggal  tidak bersama-sama raja. Pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pendidik Pangeran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki kepribadian yang kuat. 
Di samping mengasuh kedua anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untuk membesarkan putra-putra Sultan Prawata yang telah menjadi yatim piatu. Sultan Prawata mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu putra Sultan Prawata adalah Pangeran Pangiri, yang kelak berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi menantu Sultan Pajang (H.J. de Graaf, 1986: 272). Tahun meninggalnya Ratu Kalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia dimakamkan di dekat suaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang mungkin dibangun atas perintahnya sendiri, sesudah ia menjadi janda pada tahun 1549.Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangeran Japara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599. Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota itu, yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran Jepara itu adalah anak angkat Ratu Kalinyamat, putra Raja Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota pelabuhan yang penting mengalami masa kemerosotannya.

D. PERANAN RATU KALINYAMAT DALAM SEJARAH INDONESIA
Ratu Kalinyamat sebagai kepala daerah Jepara telah memainkan peranan penting tidak hanya pada level lokal atau regional, tetapi pada level internasional. Peranannya meliputi berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, mau pun hubungan internasional.

1.  Peranan Ratu Kalinyamat dalam Bidang Politik
Peranan politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut  di istana Demak pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan sepeninggal SultanTrenggana. Perebutan tahta menimbulkan peperangan  berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan. Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangeran Sekar dengan Pangeran Trenggana.  Kedua pangeran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan Demak. Dari segi usia, Pangeran Sekar  lebih tua sehingga merasa lebih berhak atas tahta Kesultanan Demak dari pada Pangeran Trenggana. Namun Pangeran Sekar lahir dari istri ke tiga Raden Patah, yaitu putri Adipati Jipang, sedangkan Pangeran Trenggana lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel.  Oleh karena itu Pangeran Trenggana merasa lebih berhak menduduki tahta Kesultanan Demak (Djuliati Suroyo dkk, 1995: 29 dan Slamet Mulyono, 1968: 120).
Pangeran Prawata, putra Pangeran Trenggana, membunuh Pangeran Sekar yang dianggap sebagai penghalang bagi Pangeran Trenggana untuk mewarisi tahta Kesultanan Demak. Pembunuhan terjadi di sebuah jembatan sungai saat Pangeran Sekar dalam perjalanan pulang dari salat Jum’at.  Oleh karena itu, ia dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda Lepen. Menurut tradisi lisan di daerah Demak, pembunuhan itu  terjadi di tepi Sungai Tuntang, sedang menurut tradisi Blora Pangeran Sekar dibunuh  di dekat Sungai Gelis (Karyana Sindunegara, 1996/1997: 83-87).
Pembunuhan  ini menjadi pangkal persengketaan di Kerajaan Demak. Raden Arya Penangsang, putra Pangeran Sekar berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya, sehingga ia berusaha untuk menumpas keturunan Sultan Trenggana. Apalagi ia mendapat dukungan secara penuh dari gurunya. Sunan Kudus.      
             Pangeran Sekar mempunyai dua orang putra, yaitu  Raden Penangsang dan Raden Mataram. Sepeninggal ayahnya, Raden Penangsang  diangkat menjadi adipati di Jipang bergelar Raden Arya Penangsang. Menurut pandangan masyarakat Blora Arya Penangsang tampangnya seram, berkumis tebal, uwang malang, paha belalang, namun tidak begitu tinggi. Ia suka memakai celana komprang berwarna hitam, bebedan, dan memakai destar (Karyana Sindunegara dkk., 1996/1997: 84).
            Bagi lawan-lawan politiknya, Arya Penangsang  dituduh telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan terhadap keturunan Sultan Trenggana. Ia menyuruh Rangkut dan Gopta untuk membunuh Sultan Prawata. Sultan Prawata terbunuh bersama permaisurinya pada tahun 1549 (Babad Demak II: 28). Ia kemudian membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Pangeran Hadiri berhasil dibunuh oleh pengikut Arya Penangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus, mengantarkan istrinya dalam rangka minta keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawata oleh Arya Penangsang. Namun Sunan Kudus tidak dapat menerima tuntutan Ratu Kalinyamat karena ia memihak Arya Penangsang. Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawata memang berhutang nyawa kepada Arya Penangsang yang harus dibayar dengan nyawanya. Arya Penangsang juga mencoba membunuh Adipati Pajang Hadiwijaya, menantu Sultan Trenggana. Namun menurut J.Brandes  (1901: 488-491), ia bertindak demikian karena membela hak-haknya
            Kematian Sultan Prawata dan Pangeran Hadiri tampaknya membuat selangkah lagi bagi Arya Penangsang untuk menduduki tahta Demak. Meskipun pembunuhan terhadap Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri telah berjalan mulus, namun Sunan Kudus merasa belum puas apabila Arya Penangsang  belum menjadi raja, karena masih ada penghalangnya yaitu Hadiwijaya. Atas nasehat Sunan Kudus, Arya Penangsang berencana membunuh Hadiwijaya namun mengalami kegagalan. Kegagalan itu mendorong pecahnya perang antara Jipang dengan Pajang.
Di luar dugaan pihak Sunan Kudus dan Arya Penangsang, ternyata Ratu Kalinyamat tampil memainkan peranan penting dalam menghadapi Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada  Hadiwijaya untuk membunuh Arya Penangsang.  Didorong oleh naluri kewanitaannya yang sakit hati karena kehilangan suami dan saudara, ia telah  menggunakan wewenang politiknya selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan Trenggana. Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak mudah menyerah  pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam  Babad Tanah Jawi,  ia mertapa awewuda wonten ing redi Danaraja, kang minangka tapih remanipun kaore (bertapa dengan telanjang di gunung Danaraja, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai). Tindakan ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan cara menyepi di Gunung Danaraja.  Ia memiliki sesanti, baru akan mengakhiri pertapaanya apabila Arya Penangsang telah terbunuh.
Pernyataan Babad Tanah Jawi itu merupakan suatu kiasan yang memerlukan interpretasi secara kritis. Historiografi tradisional memuat hal-hal yang digambarkna dengan simbol-simbol dan kiasan-kiasan. Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga  memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus (Suara Merdeka, 10 Desember 1973). Ratu Kalinyamat tidak menghiraukan lagi untuk mengenakan perhiasan dan pakaian indah seperti layaknya seorang ratu. Pikirannya ketika itu hanya dicurahkan untuk membinasakan Arya Penangsang. Di Gunung Danaraja itu lah Ratu Kalinyamat menyusun strategi untuk melakukan balas dendam kepada Arya Penangsang.
Peperangan antara Pajang dan Jipang tidak dapat terelakkan. Dalam peperangan itu, Arya Penangsang memimpin pasukan Jipang mengendarai kuda jantan bernama Gagak Rimang yang dikawal oleh prajurit Soreng. Adapun pasukan  Pajang dipimpin oleh Ki Gede Pemahanan, Ki Penjawi, Ki Juru Mertani. Pasukan Pajang juga dibantu oleh sebagian prajurit Demak dan tamtama dari Butuh, pengging. Dalam peperangan itu Arya Penangsang terbunuh.
 Terbunuhnya Arya Penangsang itu terjadi pada tahun 1480 Saka atau 1558 Masehi (Karyana Sindunegara, 1996/1997: 123-114). Menurut Amen Budiman peristiwa itu terjadi pada tahun 1556 (Amen Budiman, 1993: 78), sedang sumber lain mengatakan Arya Penangsang gugur pada tahun 1554 (Suripan Sadi Hutomo, 1996). Pertempuran dimenangkan oleh pihak Pajang dan Arya Penangsang gugur ((H.J. de Graaf, 1986: 91). Rangkaian peristiwa pembunuhan para kerabat raja Demak hingga perang antara Pajang melawan Jipang itu dalam sumber tradisi terjadi pada tahun 1549. Hal itu merupakan anti klimaks dari sejarah dinasti Demak (H.J. de Graaf,  1986: 91).
Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat Peristiwa perebutan kekuasaan di Demak itu di satu pihak telah memunculkan tokoh wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan keluarga Kesultanan Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang begitu menonjol. Sementara itu di pihak lain, memunculkan seorang tokoh baru atau homo novus yaitu Sultan Hadiwijaya.
            Fernao Mendez Pinto dalam kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan Demak terdapat delapan penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru sehingga berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth (1912) juga menyatakan terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah satunya adalah Kalinyamat. Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten, Jayakarta, Cirebon, Prawata, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat. Kedudukan Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu Kalinyamat pada posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara.  Karena termasuk sebagai dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh penguasa di delapan daerah merdeka di bidang politik dan pemerintahan cukup kuat (H.J. de Graaf, 1986 : 89).
Sultan Demak untuk menggabungkan daerah Prawata dan Kalinyamat menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara sultan dengan penguasa Kalinyamat. Kekuasaan Ratu Kalinyamat atas wilayah Kalinyamat dan Prawata cukup kokoh karena tidak ada ancaman dari pihak mana pun. Agaknya ia dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sesungguhnya. Sepeninggal Sultan Prawata, ia menjadi pemimpin keluarga dan pengambil keputusan penting atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Bagi Ratu Kalinyamat kekuasaan Pangeran Pangiri, putra Sultan Prawata, di Demak begitu kecil. Apalagi  Pangeran Pangiri menjadi anak asuhnya dan dibesarkan oleh Ratu Kalinyamat. Sementara itu Sultan Pajang bukan merupakan hambatan bagi Ratu Kalinyamat. Ada pun kekuasaan raja-raja Banten dan Cirebon baru saja muncul. Dengan demikian, di antara pewaris dinasti Demak di wilayah pantai utara Jawa, Ratu Kalinyamat lah yang paling menonjol (H.J. de Graaf, 1986 : 131).
            Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579. Penggantinya adalah Pangeran Jepara, putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangeran Aria atau Pangeran  Jepara adalah putra angkat Ratu Kalinyamat, putra raja Banten Hasanuddin. Pada masa itu peranan Jepara mulai mengalami kemerosotan. Pada tahun 1599 Jepara dengan susah payah ditundukkan oleh Mataram. Jepara waktu itu memiliki daya tahan yang kuat karena kota pelabuhan itu dikelilingi dengan benteng yang menghadap ke pedalaman dan dijaga ketat oleh prajurit Jepara.   

2. Peranan Ratu Kalinyamat dalam Bidang Ekonomi
Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris hancur. Akan tetapi perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali. (H.J. de Graaf, 1986: 125). Kegiatan ekonomi menjadi semakin terbengkalai pada saat wilayah Kesultanan Demak menjadi ajang pertempuran antara Arya Penangsang dengan keturunan Sultan Trenggana. Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung, walau kurang berkembang.
Setelah berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan ekonomi yang terbengkelai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut Jepara dapat berlangsung meski pun kurang berkembang.
Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil memulihkan kembali perdagangan Jepara. Konsolidasi ekonomi memang diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah  pemerintahannya, pada pertengahan abad ke 16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai. Pedagang-pedagang dari kota-kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku, Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya masing-masing (Meilink Roelofsz, 1962: 103-115). Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa diekspor beras ke daerah Maluku dan sebaliknya dari Maluku diekspor rempah-rempah untuk kemudian diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara merupakan daerah ekspor beras (Armando Cortesao, 1967: 188).
Pada pertengahan abad ke-16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan tokoh penting di Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad ke-16 (H.J. de Graaf, 1986 : 128). Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguatan sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini  dapat berkembang  baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.
Meski pun daerahnya kurang subur, namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur yaitu Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu wajar apabila Ratu Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya. Kekayaannya diperoleh melalui perdagangan internasional, terutama dengan Malaka dan Maluku. Jepara merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah hinterland. Selain berperan sebagai pelabuhan transito juga menjadi pengekspor  gula, madu, kayu, kelapa, kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya sistem comenda dalam pelayaran dan perdagangan pada waktu itu (D.H. Burger, 1962 : 25-26), membuat Ratu Kalinyamat tidak hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pedagang.
Sesuai dengan letak geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati suatu titik yang menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan adalah daerah Pati, Jepara, Juana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya  mau pun daerah seberang laut. Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi, pelabuhan Jepara berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk memenuhi warganya dan didistribusikan ke daerah-daerah lain di seberang lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari daerah luar untuk selanjutnya didistribusikan atau diperdagangkan ke daerah-daerah hinterland yang membutuhkan.
Perdagangan laut di pantai utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar dikuasai oleh bangsawan. Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu bagi barang dagangan yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak terjual. Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk memilih barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain. Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk kelancaran usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan finansial yang kuat memberi peluang bagi  penguasa untuk menanamkan pengaruhnya dalam bidang politik dan pemerintahan.

3. Peranan Ratu Kalinyamat dalam Hubungan Internasional
Kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak  dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten. Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya juga  karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan. Sebagai raja yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya,  Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa.
            Hanya tiga tahun di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat,  kekuatan armada Jepara telah pulih kembali. Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara. Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang Portugis maupun suku Hative di Maluku (H.J. de Graaf, 1986: 130).
            Di depan sudah disebutkan, bahwa pemerintahan Ratu Kalinyamat lebih mengutamakan strategi pengembangan Jepara untuk memperkuat sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik kalau dilaksanakan melalui kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon. Ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan mancanegara agar kedudukan Jepara sebagai pusat kekuasaan politik dan  pusat perdagangan bisa kokoh.
            Bukti tersohornya Ratu Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16 antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu Kalinyamat dan mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis yang saat itu kebetulan sedang lengah dan menderita berbagai macam kekurangan. Ratu Kalinyamat menyetujui anjuran itu.  Pada tahun 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara. Armada itu membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang bergelar Sang Adapati. Prajurit dari Jawa ini menyerang dari arah utara. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil merebut kawasan orang pribumi di  Malaka.
            Serangan Portugis ternyata begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri. Sementara itu, pasukan Jawa tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah seorang panglimanya gugur. Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan di laut, 2000 prajurit Jawa gugur. Hampir seluruh perbekalan dan persenjataan berupa arteleri dan mesiu jatuh ke tangan musuh.  Walau pun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksan kembali ke Jawa (H.J. de Graaf en G. Th. Pigeaud, 1974 : 105). Nasib malang tampaknya menimpa armada Jawa, karena tiba-tiba badai datang. 20 kapal penuh muatan terdampar di pantai dan menjadi jarahan orang Portugis. Dari seluruh armada Jepara, hanya kurang dari separo yang bernasib baik dan selamat kembali ke Jepara (Diego de Couto, 1778-1788, : IX, 5 dan H.J. de Graaf, 1987 : 33).
            Walau pun pernah mengalami kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh wanita ini. Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menyerang Malaka. Ketika armada Aceh telah mulai menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis. Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan (Diego de Couto, 1778-1788, XVII).
            Armada Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574. Dibanding dengan ekspedisi pertama, armada Jepara kali ini jauh lebih besar. Armada ini terdiri dari 300 buah kapal layar dan 80 buah di antaranya berukuran besar. Awak kapalnya terdiri dari 15.000 prajurit pilihan, yang dilengkapi dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu. Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah Kyai Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama  Quilidamao (H.J. de Graaf en Th. G. Th. Pigeaud, 1974, : 273). Nama itu pada jaman sekarang setingkat Laksamana Laut atau Jendral. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penguasa bahari Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut dari pada kekuatan angkatan darat. Ini tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit darat, akan tetapi kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensif yaitu dengan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhannya yang menghadap ke darat (Agust. Supriyono, 2005).
  Armada Jepara itu memulai serangan dengan salvo, tembakan yang seolah-olah hendak membelah bumi (H.J. de Graaf, 1986 : 32). Setelah memborbardir kota Malaka dengan tembakan artileri, keesokan harinya pasukan Jawa didaratkan dan mereka menggali parit-parit pertahanan. Rupa-rupanya peruntungan nasib belum jatuh di pihak Jawa. Pada waktu armada mereka menyerang, 30 buah kapal besarnya malahan terbakar. Pasukan Jawa kemudian terpaksa membatasi gerakan dengan mengadakan blokade laut. Portugis baru berhasil menembus rintangan itu setelah melakukan serangan berkali-kali. Usaha Portugis untuk berunding mengalami kegagalan karena pihak Jawa menolak tuntutan Portugis yang dianggap terlalu berat.
            Sementara itu dalam pertempuran laut pihak Portugis berhasil merebut enam buah kapal Jawa yang penuh bahan makanan kiriman dari Jepara. Akibat dari kejadian ini, pasukan Jawa yang selama tiga bulan dengan tegar melakukan blokade laut, kekuatannya berangsur-aangsur surut karena kekurangan bahan makanan. Mereka akhirnya terpaksa bergerak mundur dan menderita banyak korban. Konon hampir dua pertiga dari kekuatan angkatan perang yang berangkat dari Jepara musnah. Di sekitar Malaka saja  terdapat sekitar 7.000 makam orang Jawa (Diego de Couto, 1778-1788: 5).
            Dari pengiriman dua ekspedisi ke Malaka tersebut membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang kepala pemerintahan yang sangat berkuasa. Walaupun ia gagal dalam misinya, namun orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya. Dalam bukunya, Diego de Couto menyebutnya sebagai Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Ia juga disebut oleh sumber Portugis sebagai De kranige dame yaitu seorang wanita yang pemberani. Sifat berani Ratu Kalinyamat ini tampak dalam perjuangannya yang gigih dalam menentang kekuasaan bangsa Portugis. Kegagalan serangan Jepara itu terutama disebabkan oleh kekalahan dalam bidang teknologi militer dan pelayaran. Kapal-kapal Portugis jauh lebih unggul dalam teknik pembuatannya dan lebih besar dari pada kapal-kapal Jepara. Meskipun perlawanan terhadap Portugis mengalami kegagalan, tetapi pengiriman armada itu cukup menunjukkan bahwa perekonomian di Jepara pada saat itu sangat kuat.
            Sumber Portugis menyebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut atau pedagang Ambon di Hitu minta bantuan Ratu  Jepara untuk melawan orang-orang Portugis. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon (H.J. de Graaf en Th. G. Th. Pigeaut, 1974 : 273).
            Pada tahun 1579, Pakuan Pajajaran, sebuah kota dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat yang belum masuk Islam, ditaklukkan oleh Raja Banten. Pangeran Jepara putra Hasanuddin dari Banten  yang menjadi putra angkat Ratu Kalinyamat ternyata tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pejajaran. Demikian pula Ratu Kalinyamat tidak disebutkan ikut dalam ekspedisi itu. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Kalinyamat baru saja meninggal. Keponakannya dan sekaligus putra angkatnya, Pangeran Jepara, telah menggantikannya sebagai raja (H.J. de Graaf, 1986: 131).
Sebagai  kota pantai, Jepara merupakan kota bandar perdagangan yang karena fungsinya menarik pedagang dari berbagai suku dan kebangsaan untuk tinggal sementara mau pun menetap. Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer untuk meluaskan kekuasaan ke Bangka dan ke Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe. Di bawah Ratu Kalinyamat, perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Dia begitu dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sebenarnya. Di bawah kekuasaannya, dia mampu mempunyai kekuatan armada yang tangguh. Dia juga menjalin kerja sama dengan Ambon, sehingga para pemimpin persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara baik untuk memerangi orang Portugis mau pun suku Hative di Maluku. Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguasaan sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik karena adanya kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.
Bukti kebesaran Jepara terlihat pada tahun 1550, ketika Raja Johor minta bantuan armada perang kepada Jepara  untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1.000 orang prajurit bersenjata. Meski pun prajurit Jepara mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat terus berusaha melakukan serangan lagi terhadap Portugis di Malaka. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugios di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal berukuran besar yang masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 prajurit pilihan dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.
            Dengan armadanya yang kuat, Ratu Kalinyamat juga pernah melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis di Malaka, yaitu pada tahun 1551 dan tahun 1574. Kedua penyerangan itu dilakukan Ratu Kalinyamat dalam rangka membantu Kesultanan Johor dan Aceh untuk mengusir Portugis dari Malaka. Penyerangan pertama gagal, sedangkan pada penyerangan kedua, meskipun telah berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan, ternyata pasukan Jepara ini tidak dapat memenangkan penyerangan dan terpksa kembali ke Jawa.
            Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat adalah Kyai Demang Laksamana. Nama itu pada zaman sekarang setingkat dengan Laksamana Laut atau Jendral. Hal itu menunjukkan bahwa sebagai pnguasa bahari, Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut daripada kekuatan angkatan darat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit angkatan darat, akan tetapi, kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensive, yaitu dengan jalan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhan yang menghadap ke darat atau daerah pedalaman Jepara.
            Kekalahan armada laut Jawa baik pada ekspedisi Adipati Unus maupun yang dikirim oleh Ratu Kalinyamat memang merupakan kenyataan yang harus diterima. Hal ini karena diakibatkan lebih canggihnya teknologi yang dimiliki oleh Portugis yang memiliki senjata pelontar yang unggul, yaitu meriam. Meskipun demikian, harus diakui bahwa pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat masyarakat Jepara telah tampil dalam panggung sejarah Nusantara sebagai masyarakat bahari. Ciri utama masyarakat bahari adalah di dalam kehiupan mereka, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari diperoleh dari kegiatan atau pekerjaannya mngeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya laut. Pada zaman itu, di samping berkehidupan sebagai nelayan, aktivitas pelayaran dan perdagangan adalah yang paling utama.
            Bukti kejayaan Jepara pada zaman itu antara lain adalah armada laut yang besar dan kuat yang dimiliki Ratu Kalinyamat. Usaha melanjutkan cita-cita Adipati Unus untuk mengusir Portugis dari Malaka, menunjukkan bahwa Malaka merupakan salah satu titik dari jaringan perdagangan kota pelabuhan Jepara yang mulai mendunia. Sumber Portugis juga menjelaskan bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat,  Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut dan pedagang Ambon di Hitu meminta bantuan pertolongan kepada Ratu Kalinyamat untuk melawan orang-orang Portugis maupun dengan suku lain yang masih seketurunan, yaitu orang-orang Hative. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.
           
V. KESIMPULAN

Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh historis legendaris yang dibicarakan masyarakat dengan berbagai versi. Sebagai akibat dari peperangan Arya Penangsang, di Jepara terdapat toponim-toponim nama desa yang berhubungan dengan dicederainya Pangeran Hadiri  oleh prajurit Arya Penangsang hingga tewas.
Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat,  Jepara semakin berkembang sebagai bandar perdagangan dan pelayaran. Ratu Kalinyamat tidak saja memegang peranan penting dalam politik dan pemerintahan, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi terutama hasil perdagangan dan pelayaran seberang laut. Adanya sistem comenda menyebabkan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara yang sangat kaya. Lagi pula ia memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk mendukung aktivitas pelayaran dan perdagangan seberang laut. Jepara berkembang menjadi bandar perdagangan dan bandar transito yang dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Oleh karena ia menguasai aktivitas ekonomi dan perdagangan itu, maka wajar jika ia dikenal sebagai penguasa yang sangat kaya.
Kekayaan Ratu Kalinyamat merupakan faktor pendukung utama bagi kekuatan politiknya. Berkat kekayaannya, ia memiliki armada angkatan laut yang kuat untuk melakukan serangan terhadap Malaka pada tahun 1551 dan 1574. Serangan itu dilakukan atas dukungannya terhadap Kerajaan Johor dan Aceh, yang memintanya untuk membantu mengusir Portugis dari Malaka. Permintaan kedua kerajaan itu memberikan gambaran bahwa secara politis Ratu Kalinyamat dikenal sebagai penguasa yang sangat kuat dan namanya cukup termasyhur.
Popularitasnya sebagai kepala pemerintahan tidak hanya dikenal di kawasan Nusantara bagian barat saja, tetapi juga di Nusantara bagian timur. Keberaniannya melawan kekuatan asing telah dikenal di sepanjang Nusantara dari Aceh, Johor, hingga Maluku. Di samping itu, Ratu Kalinyamat dapat menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan pedalaman sehingga dapat memelihara stabilitas politik. Dalam masa pemerintahannya, ia tidak mempunyai musuh. 
Sebagai pewaris kekuasaan Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat memegang peranan yang terpenting dibanding dengan penguasa-penguasa yang lain di pantai utara Jawa pada abad ke-16. Sebagai pemersatu keluarga Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat mempunyai pengaruh yang cukup kuat di wilayah Banten dan Cirebon.  Ia juga mampu mempertahankan konsolidasi keluarga Kasultanan Demak. Tidak berlebihan kiranya apabila Ratu Kalinyamat disebut sebagai tokoh pemimpin keluarga Kasultanan Demak dan kepala pemerintahan yang terkuat dari dinasti Demak. Hanya Jeparalah yang mampu mempertahankan eksistensi dan peranan Demak sebagai kerajaan yang bercorak maritim di pantai utara Jawa pada abad ke-16, yang memiliki kebesaran  seperti pendahulunya.
Dengan mempelajari kehidupan dan peranan Ratu Kalinyamat, diperoleh pandangan yang lebih lengkap mengenai perkembangan historis peranan dan kedudukan wanita Indonesia.  Ratu Kalinyamat menggambarkan sosok  wanita yang tidak dibatasi oleh tradisi. Aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti bahwa tidaklah benar jika wanita Jawa dari kalangan bangsawan tinggi  sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme. Kasus Ratu Kalinyamat jelas membuktikan bahwa wanita kalangan bangsawan justru mempunyai peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting yang sangat dibutuhkan,  baik dalam bidang politik maupun ekonomi.  Peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan. Ratu Kalinyamat telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya.







DAFTAR PUSTAKA

Cortesao, Armando. 1967. The Suma Oriental of Tome Pires. Nendeln/Lichtenstein: Kraus Reprint-Limited, 1967.   

Couto, Diego de. 1778-1788. Da Asia. Jilid V. Lisboa.

Djajadiningrat, Hoesein.  1983. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Terjemahan KITLV dan LIPI. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Gina dan Babariyanto.  Babad Demak II. 1981. Transliterasi Terjemahan Bebas.  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Graaf, H.J. 1986. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan Grafitipers dan KITLV. Jakarta: Grafitipers.

Kartodirdjo, Sartono (ed.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka.

_______. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Jakarta: Gramedia.

Meilink, Roeloffsz. 1962. Asia Trade: Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague : Martinus Nijhoff.

Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara Pemda Kabupaten Tingkat II Jepara. 1988. Sejarah  dan Hari Jadi Jepara.

Slamet Mulyono,  1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhatara.

Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. 1995. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP Semarang.

Sulendraningrat, P.S. 1972. Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli. Tjirebon: Pusaka.

Serat Kandhaning Ringgit Purwa. Koleksi KGB. No 7.

Sudibya, Z.H. 1980. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Veth, P.J. 1912. Java, Geographisch, Ethnologisch, Historisch. Cetakan ke dua.  Haarlem.

Kerajaan Kalingga (Ratu Sima)

Diposting oleh Brovo45 di 00.36 0 komentar

Kerajaan Kalingga (Ratu Sima)

Shima atau Ratu Shima adalah nama penguasa Kerajaan Kalingga, yang pernah berdiri pada milenium pertama di Jawa.Pada masa pemerntahan Ratu Shima,Kerajaan Kalingga menggapai masa kejayaannya. Tidak banyak diketahui tentangnya, kecuali bahwa ia sangat tegas dalam memimpin dengan memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri. Salah satu korbannya adalah keluarganya sendiri.
Syahdan, Kerajaan Kalingga, Nagari di pantura (pantai utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) beratus masa berlampau, bersinar terang emas,penuh kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima, nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangi di antero nagari nusantara. Sungguh, meski jargon kesetaraan Gender belum jadi wacana saat itu. Namun pamor Ratu Shima memimpin kerajaannya luar biasa, amat dicintai jelata, wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan. Kebijakannya mewangi kesturi, membuat gentar para perompak laut. Alkisah tak ada nagari yang berani berhadap muka dengan Kerajaan Kalingga, apalagi menantang Ratu Shima nan perkasa. bak Srikandi, sang Ratu Panah.
Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga para pejabat mahapatih, patih, mahamenteri, dan menteri,hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda, kuda-kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda pandita ratunya. Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan me-mutasi, dan me-Non Job-kan pejabat penting di lingkunganb Istana. Namun puluhan pejabat yang mendapat mutasi ditempat yang tak diharap, maupun yang di-Non Job-kan, tak ada yang mengeluh barang sepatah kata. Semua bersyukur, kebijakan Ratu Shima sebetapapun memojokkannya, dianggap memberi barokah, titah titisan Sang Hyang Maha Wenang.
Tak puas dengan sikap "setia" lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah Kerajaan Kalingga dengan menghamparkan emas permata, perhiasan yang tak ternilai harganya di perempatan alun-alun dekat Istana tanpa penjagaan sama sekali. Kata Ratu Shima,"Segala macam perhiasan persembahan bagi Dewata agung ini jangan ada yang berani mencuri, siapa berani mencuri akan memanggil bala kutuk bagi Nagari Kalingga, karenanya, siapapun pencuri itu akan dipotong tangannya tanpa ampun!". Sontak Wong cilik dan lingkungan elit istana, bergetar hatinya, mereka benar-benar takut. Tak ada yang berani menjamah, hingga hari ke 40. Ratu Shima sempat bahagia.
Namun malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera dititahkan para telik sandi mengusut wong cilik yang mungkin saja jadi maling di sekitar lokasi persembahan, sementara di Istana dibentuk Pansus,Panitia Khusus yang menguji para pejabat istana yang mendapat mutasi apes, atau yang Non Job diperiksa tuntas. Namun setelah diperiksa dengan seksama. Berpuluh laksa wong cilik tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima. Mereka rela menyerahkan jiwanya apabila terbukti mencuri. Ratu Shima kehabisan akal.
Saat itu, Tukang istal kuda, takut-takut menghadap, badannya gemetar, matanya jelalatan melihat kiri kanan, amat ketakutan. "Maaf Tuanku Yang Mulia Ratu Agung Shima, perkenankan hamba memberi kesaksian, hamba bersedia mati untuk menyampaikan kebenaran ini. Hamba adalah saksi mata tunggal. Malam itu hamba menyaksikan Putra Mahkota mengambil diam-diam seluruh perhiasan persembahan itu. Maaf…," sujud sang tukang istal muda belia, mukanya seperti terbenam di lantai istana. "Apa, Putra Mahkota mencuri?!" Ratu Shima terperanjat bukan kepalang. Mukanya merah padam.. "Putraku, jawab dengan jujur, pakai nuranimu, benar apa yang dikatakan wong cilik dari kandang kuda ini?", tanya sang ibu menahan getar. Sang Putra Mahkota tiada menjawab, ia hanya mengangguk, lalu menunduk teramat malu. Ia mengharap belas kasih sang ibu yang membesarkannya dari kecil.
Sejenak istana teramat sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah."Prajurit, Demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari Kalingga dari kutukan dewata, potong tangan Putra Mahkotaku, sekaramg juga…," perintah Sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun Sang Ratu tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksankana. Hal itu dituliskan dengan jelas di Prasasti Kalingga, yang masih bisa dilihat hingga kini.
Berdasarkan Naskah Wangsakerta disebutkan bahwa Ratu Shima berbesan dengan penguasa terakhir Tarumanegara.

Kisah John Titor Pengelana Waktu

Diposting oleh Brovo45 di 00.29 0 komentar

kisah John Titor
pengelana waktu dari tahun 2036
April 14, 2009, 3:05 AM


Meskipun telah ada cerita kartun fiksi yang amat populer di Indonesia mengenai mesin waktu, Doraemon, beberapa orang di Indonesia masih percaya dengan salah satu cerita nyata dari Amerika Serikat mengenai pengakuan seseorang tentang perjalanan melintasi waktu yang membuat dunia gempar pada tahun 2000 hingga sekarang yang dilakoni oleh “John Titor”, seseorang yang mengaku berasal dari tahun 2036.  Banyak orang yang tidak percaya akan semua yang dia ceritakan dan banyak pula yang menganggap bahwa John adalah orang gila dan hanya ingin populer. Banyak orang yang berpikir bahwa lebih memungkinkan melakukan perjalanan ke masa depan dengan cara menaiki roket yang hampir sampai kecepatan cahayanya keluar angkasa, lalu kembali lagi ke bumi dengan membawa konsep hukum relativitas yang menyatakan kalau waktu di dalam roket lebih pelan daripada waktu di obyek yang relatif “tetap ditempat”, yaitu bumi. Jadi, mungkin bisa saja orang naik roket kecepatan tinggi keluar dan kembali selama satu tahun, tapi ternyata di bumi sudah berjalan selama 2 tahun.

John masuk pada sebuah forum milis Time Travel Institute pada Nopember 2000 – Maret 2001.  Dia sempat mengambil gambar tentang mesin waktunya dan menyebarkan foto – foto mesin waktunya beserta buku manualnya kepada beberapa orang. Pada tanggal 21 Maret 2001, John mengucapkan selamat tinggal kepada forum tersebut dan dia kembali ke tahun 2036. Awalnya, John masuk ke dalam forum dengan menggunakan nama TimeTravel_0 tepatnya pada tanggal 2 Nopember 2000. “John Titor” bukanlah nama asli dari orang tersebut, dia merahasiakan nama aslinya. Nama John Titor baru dipakai setelah John diharuskan memasukkan nama untuk sign up agar mendapatkan account di Art Bell BBS di mana kemudian ia melanjutkan menulis beberapa pengalamannya sebagai seorang pengelana waktu dari tahun 2036. Banyak pula orang yang percaya dengannya dan menanyakan beberapa hal seputar masa depan. Spekulasi dan investigasi tentang siapakah John Titor sebenarnya, dan mengapa John Titor masuk ke dalam milis dan membocorkan sedikit rahasia tentang masa depan itu masih dipertanyakan hingga saat ini.

John mengaku sebagai seorang militer Amerika Serikat yang datang dari tahun 2036 dimana pada saat itu ada sistem Unix yang sedang mengalami time error dan dikenal dengan sebutan “UNIX 2038 Timeout Error”. John ditugaskan oleh pemimpinnya untuk datang ke tahun 1975 untuk mengambil sebuah komputer portabel pertama di dunia yaitu IBM 5100 (di beberapa tempat ada yang menyebutnya IBM 5110) karena di dalam pc tersebut terdapat suatu bahasa Unix yang dapat memecahkan berbagai bahasa Unix. John dipilih oleh petingginya untuk melaksanakan tugas mulia ini karena kakeknya John terlibat langsung di dalam pembuatan dan pemrograman komputer IBM 5100 ini. Menurut John, teknologi di dalam pc tersebut hanya diketahui oleh segelintir orang dari IBM dan teknologi tersebut tidak pernah lagi di pasang di dalam pc pada generasi selanjutnya hingga tahun 2036. Maka dari itu, IBM 5100 sangat diperlukan pada tahun 2036 yang sedang mengalami time error pada sistem komputernya. Hal ini kemudian dikonfirmasi kepada pihak IBM dan diakui pula oleh pihak IBM. Pihak IBM kaget karena mereka mengakui bahwa hanya 5 orang saja yang mengetahui hal tersebut dan itu terjadi pada tahun 1975.

John berkata bahwa dia lahir di Tampa Bay, Florida, pada tahun 1998. Dalam perjalanan pulang ke tahun 2036 setelah mendapatkan IBM 5100 di tahun 1975, dia mengunjungi tahun 2000 untuk menggenapi janjinya kepada sang ayah dan memperingati keluarganya dan dunia tentang bahaya – bahaya yang akan terjadi di masa depan. Dia juga sempat melihat dirinya pada waktu itu yang masih berumur 2 tahun. Seperti pada sebuah film “Back To The Future”, John memasang alat mesin waktunya di dalam mobil yang dikendarainya untuk melintasi waktu. Sebelum kembali ke tahun 2036, John meminta pada sang ayah untuk merekam prosesi mesin waktu yang sedang dia pakai untuk kembali ke tahun 2036 dan di upload ke internet melalui pengacara keluarganya, Larry Harber. Tapi entah mengapa rekaman video tersebut tidak jadi di upload. Ada yang berkata bahwa rekaman itu telah diambil oleh pihak intelijen Amerika Serikat dan akan dihancurkan. Video keberangkatan John juga sempat dipublikasikan ke beberapa orang namun tidak dipublikasikan kembali oleh orang – orang yang telah diberikan. Menurut cerita dari John, kini keluarga John sudah pindah dari Florida ke Nebraska setelah John kembali ke tahun 2036. Percaya atau tidak, seminggu setelah keluarga John pindah dari Florida, terjadi badai topan yang dashyat yang menerjang Florida. John berkata bahwa keberadaan keluarganya sangat dirahasiakan agar terhindar dari publik yang ingin mengetahui mengenai dirinya lebih jauh.

Setelah kepergian John untuk kembali ke asalnya pada tanggal 21 Maret 2001, John dianggap oleh forum tersebut sebagai orang yang cerdas dan mempunyai ilmu pengetahuan sains yang mendalam, walaupun John mengakui bahwa dia adalah seorang yang memiliki spesialisasi di dalam bidang sejarah, bukan di dalam bidang komputer maupun sains. Sebelum pergi, John sedikit membocorkan tentang mesin waktu yang dia pakai untuk mengarungi waktu. John mengaku mesin waktu yang dipakainya adalah tipe C204 yang dapat memuat sampai 3 orang. Mesin ini dibuat dan dimiliki oleh militer Amerika Serikat di tahun 2036. John berkata bahwa mesin waktu bukanlah barang yang aneh di jamannya. Ada lagi tipe lebih besar yaitu tipe C206 yang dibuat oleh GE (General Electric) dan dapat memuat hingga 7 orang. Mesin ini hanya mampu membawa mereka maksimum 60 tahun ke masa silam dengan kecepatan 10tahun/jam. Militer Amerika Serikat sejak tahun 1989 telah mengembangkan alat penghasil spinning gravity device (gravitasi berputar) di dalam proyek 8914-I. Alat ini sangat besar dan tinggi, berputar dengan poros vertikal berlawanan dengan jarum jam. Putarannya sangat cepat sehingga dimensi waktu dan ruang akan terdistorsi. Energi yg dihasilkan adalah elektromagnetik. Alat ini mirip sekali dengan C204.

Mesin waktu yang digunakan oleh John Titor.



Dibawah ini adalah komponen – komponen yang diperlukan untuk menciptakan sebuah gravity distortion system, yang akan memungkinkan perjalanan waktu:
Magnetic housing units for dual microsignularities.
Electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities.
Cooling and x-ray venting system
Gravity sensors (VGL system)
Main clocks (4 cesium units)
Main computer units (3)

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai mesin waktu yang diungkapkan oleh John Titor:
“Apapun yang saya lakukan dengan pergi ke masa silam tidak akan merubah masa depan saya, karena kita hidup di dalam sebuah dimensi yang berbeda.”
“Mesin waktu sangat berat bentuknya, panjang seperti box amunisi dengan beban mencapai 500kg, anda harus menaruh alat itu di dalam mobil dengan suspensi yang kuat. Jika dinyalakan akan terbentuk oleh suatu ‘black hole’ – ‘lubang hitam’ - kecil yang mirip dengan donat, dan disaat itulah semuanya akan terhisap ke dalam ‘black hole’ itu termasuk mobilnya menuju ke tempat tujuan. Dalam proses perjalanan akan sangat panas, sulit untuk bernafas, dan jika tujuan anda nanti ternyata ada benda atau tembok yg menghalangi perjalanan anda di titik poin yang sama, maka secara langsung mesin waktu akan ‘switch off’. Jadi, anda tidak akan pindah dari 1 titik ke titik yg lain, tapi anda pindah ke dimensi yang lain.”
“Hukum fisika Kuantum Everett-Wheeler adalah teori yang benar untuk mesin waktu, model ini juga bisa disebut “Many-Worlds Interpretation” atau dengan kata lain banyak hasil kemungkinan yang akan terjadi di masa depan berdasarkan keputusan saat ini. Contohnya, jika saya kembali ke tahun 1975 untuk membunuh kakek saya, lalu saya kembali ke 2036, saya akan tetap ada/eksis, begitupun orang tua saya. Tetapi di dimensi tahun 1975 dan masa depannya saya dan orangtua saya tidak eksis. Inilah yang disebut many worlds interpretation.”

Dengan beberapa ungkapan mengenai mesin waktu di atas, dapat diketahui bahwa John adalah seseorang yang ‘terbuka namun tertutup.’ Maksudnya adalah dia akan memprediksi beberapa kejadian yang akan terjadi di masa depan namun tidak akan memberikan secara rinci bagaimana kejadian itu akan terjadi, walaupun dalam beberapa kasus dia menyebutkan beberapa oknum kelompok maupun negara dalam informasinya. John tidak akan memberikan tips untuk memperkaya diri, tidak akan memberikan orang untuk memprediksi hari kematian, dan tidak akan menyebutkan nama lengkap seseorang yang akan berpengaruh di masa depan nantinya. Dalam posting yang ditulis oleh John selama 5 bulan, dia memprediksikan ada beberapa hal dan fakta yang akan terjadi:
John berkata bahwa internet pada masanya tidak tergantung pada ISP (Internet Service Provider). Internet model baru bisa “berdiri” sendiri yang terpisah dari backbone, bisa diinstal di mana saja, bisa dipindah – pindah, dan mengisi energinya sendiri. Hal ini telah diwujudkan dengan teknologi Wi-Fi dan sejenisnya.
John menyebutkan inisial ‘Tipler’ dan ‘Kerr’, ilmuwan yang akan berpengaruh dengan mesin waktu. Nama kedua orang ini dilacak keberadaannya dan ternyata mereka eksis dan mereka adalah profesor fisika.
Pada awal tahun 2001, John menyebut sebuah puisi berjudul “A Soldier’s Winter” (Musim Dingin Seorang Tentara). Dia mengaku bahwa puisi tersebut ditulis oleh seorang personil militer Amerika Serikat. Saat penulis puisi itu meninggal, puisinya dirangkai ulang dan dijadikan simbol di masa – masa John menjadi militer. Pada kenyataannya, seorang pensiunan kolonel dari Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Larry Cluck menulis puisi berjudul “A Soldier’s Winter”.
Konsep ‘black hole’ yang menjadi dasar mesin waktu akan dikemukakan oleh CERN (Conseil Europeen pour la Recherche Nucleaire) pada tahun 2001. Pada kenyataanya di tahun 2000 – 2001 belum banyak orang yang mengetahui tentang organisasi CERN. Ternyata benar pada tahun 2001, CERN menyatakan menemukan konsep ‘black hole’.
John memberikan rincian mesin waktu yang dia pakai kepada kita, yang berisi “Magnetic Housing Units for dual microsignularities, Electron injection manifold to alter mass and gravity of microsingularities, Cooling and x-ray venting system, Gravity sensors (VGL system), Main clocks (4 cesium units), Main computer units (3).” Para ilmuwan pada zaman sekarang menyatakan dengan mesin dan cara operasional yang disampaikan John memungkinkan kita untuk melakukan perjalanan lintas waktu.
Prediksi John tentang Amerika Serikat bahwa mulai tahun 2004 Amerika Serikat akan mulai terjadi perang saudara, dimana antara tahun 2004 – 2008 terjadi demonstrasi dan pergolakan di dalam Amerika Serikat, tahun 2008 – 2015 adalah puncak dari perang saudara itu. Hal ini tidak terbukti mengingat sekarang kita sedang berada di tahun 2009 dan tidak ada yang terjadi di dalam tubuh Amerika Serikat kecuali krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia.
Perang dunia ke - 3 akan dimulai pada tahun 2015. Dia menyatakan bahwa Rusia akan menyerang Amerika Serikat dengan nuklir, dan secara langsung perang saudara di Amerika Serikat akan berhenti dan mereka bersatu melawan Rusia. Akhirnya Amerika Serikat hanya akan terbentuk menjadi 5 negara bagian dengan presiden setiap negara bagian masing – masing dan ibukota akan berpindah ke Nebraska. Menurutnya, kota – kota besar di Amerika Serikat akan hancur begitupun di Eropa, Cina, dan Timur Tengah. Sedangkan negara – negara yang tidak terlibat perang dunia ke – 3 adalah negara – negara di benua Amerika Selatan, Australia, dan New Zealand. Perang ini akan menghilangkan populasi dunia sekitar 3 milyar jiwa.
Cina akan mengambil kesempatan emas saat Amerika Serikat sedang kacau dengan perang saudaranya. Cina akan menjajah Taiwan, Korea, dan Jepang. Tanda – tanda ke arah itu sudah muncul pada masa sekarang namun belum terbukti. Cina telah menghabiskan banyak uang untuk memperbaharui persenjataannya hingga Amerika Serikat penasaran.
Setelah perang dunia ke – 3 berakhir, barang – barang seperti printer manual, sepeda, perahu dayung, dan peralatan kerja tangan akan sangat berguna. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak digunakan lagi, kebanyakan orang menggunakan sepeda untuk alat transportasinya.
John mengatakan bahwa Olimpiade Athena 2004 adalah Olimpiade yang terakhir dan akan kembali digelar pada tahun 2040. Hal ini sempat membuat orang percaya karena Olimpiade Beijing 2008 belum tentu dilaksanakan sebab masih banyak protes dari dunia mengenai sikap pemerintah Cina terhadap Tibet. Namun prediksi John kembali salah setelah sukses dilaksanakannya Olimpiade Beijing 2008.
Penyakit sapi gila akan mewabah dan makin parah serta sulit dihentikan di tahun 2036, karena penyakit ini dapat berdiam dalam tubuh manusia selama 30 tahun lebih dan mulai bereaksi saat kita menjelang tua. Adapula penelitian pada suku Fore, salah satu suku di negara Papua Nugini yang menunjukkan bahwa kuman penyebab sapi gila bisa bersembunyi di dalam tubuh manusia selama 56 tahun tanpa menunjukkan gejala. Banyak orang suku Fore terkena penyakit serupa sapi gila akibat kanibalisme. Namun mereka hidup puluhan tahun sebelum akhirnya mati mengenaskan, yaitu paranoid, menjadi gila terlebih dahulu lalu meninggal. Para ahli berteori bahwa kemungkinan besar orang akan bisa mengidap sapi gila tanpa mengetahuinya selama puluhan tahun. Dan saat penyakit tersebut sudah “matang”, maka takkan tertolong lagi.
Penyakit AIDS masih belum ada obatnya pada tahun 2036. Penyakit kanker sudah bisa di atasi dengan menggunakan virus yang melawan kanker itu sendiri. Dan pada tahun 2007 di Calgary, Canada, beberapa ilmuwan mengembangkan virus yang bisa dipakai untuk menyerang sel kanker bernama Virus VSV (Vesicular Stomatitis Virus ). Virus ini berhasil memerangi sel kanker pada tikus – tikus percobaan.
Makanan dan air bersih sangat sulit didapatkan akibat radiasi nuklir. Di tahun 2036, setiap orang akan sangat berhati – hati dengan makanan dan minuman yang akan dikonsumsinya. John mengatakan bahwa dia sangat ketakutan karena di tahun 2000 – 2001, dia melihat orang dapat memesan makanan sesuka hatinya seperti di restoran fast food atau junk food tanpa mengecek kesehatan makanan tersebut terlebih dahulu. Buah – buahan biasa masih aman untuk dikonsumsi di tahun 2036.
Di masa depan, kehidupan bertani akan kembali, orang akan menjadi sangat religius, dan banyak orang yang menyesalkan Perang Dunia ke – 3 terjadi hanya karena permainan politik belaka dan tidak menghasilkan apa – apa.
John pernah mengatakan bahwa di New York akan ada gedung pencakar langit yang akan hilang dalam waktu dekat dan tidak ditemukannya senjata pemusnah massal di timur tengah akan tetap membuat politik Amerika Serikat untuk terus berperang. Kedua hal tersebut kemudian terjadi mengingat tragedi 11 September 2001 dan tidak ditemukannya senjata pemusnah massal yang dituduh oleh George Bush di Irak.
Perkembangan Informasi dan Teknologi (IT) akan sangat berkembang. Dia mengatakan bahwa akan banyak orang yang membuat video mereka sendiri dan di masukkan ke dalam internet. Hal tersebut telah dibuktikan dengan adanya situs youtube, metacafe, dan yang lainnya. Lalu, sistem internet nanti akan independen dengan hanya menggunakan alat kecil dengan bantuan tenaga matahari dan dapat memancarkan sinyal sejauh 60mil. Sistem yang dimaksud adalah wi-max.
Di tahun 2036, energi hidrogen dan energi panas matahari berperan sangat penting dan lebih efisien.
Anda baru saja melewati bencana yang cukup besar, coba pikirkan kembali apa yang ditakuti 1- 1,5 tahun yang lalu (tahun 1999). Menurut milis di forum, yang dimaksud adalah bencana Y2K. Mereka menyatakan bahwa John telah kembali ke tahun 1975 untuk memberitahu para imuwan tentang bencana Y2K.
Menurut John, kehidupan sosial di tatanan masyarakat sekarang sangat parah, karena kita semua sangat malas, egois, individualis, acuh untuk bersosialisasi seperti domba, dan banyak orang yang menghabiskan waktu untuk hal – hal yang tidak berguna. Cobalah untuk bangun dan melihat keadaan di sekeliling kita bahwa kondisi alam makin rusak, bumi ini sedang sekarat.
Di tahun 2036, tidak ada organisasi kesehatan yang akan melindungi kita. Apabila anda sakit parah, bersiap – siaplah untuk menggali lubang kubur anda sendiri.
Temperatur dan suhu di dunia akan menjadi lebih dingin.
Saya tahu tentang prediksi bangsa Maya tentang tahun 2012. Memang sesuatu hal yang unik akan terjadi, kira – kira seperti cerita tentang laut merah dan orang Mesir. Tapi hal itu tidak akan membuat dunia ini kiamat.
Perusahaan seperti Yahoo dan Microsoft tidak akan ada lagi pada tahun 2036.
Hingga tahun 2036, kita masih tidak menemukan apa – apa di planet mars. Begitu pun tentang ufo yang masih menjadi misteri walaupun para ilmuwan di tahun 2036 pernah menyatakan bahwa ufo juga adalah para time traveler dari masa depan dan alien adalah manusia yang telah berevolusi akibat perubahan alam, radiasi, maupun akibat perang. Para alien memiliki struktur tubuh dan organ - organ internal yang sama dengan manusia.

Adapun beberapa hal yang disarankan oleh John Titor kepada kita untuk kita lakukan agar kehidupan kita menjadi lebih baik, namun tetap saja tidak akan bisa mengubah masa depan yang telah dialami oleh John Titor. Keputusan apapun yang dibuat di masa kini, tidak akan mempengaruhi kehidupan di masa depan karena jawaban dari semua pilihan itu sudah terlihat olehnya. Berikut adalah beberapa saran yang dikemukakan oleh John Titor kepada kita;
Jangan makan atau menggunakan produk dari binatang yang diberi makan atau makan dari bangkai sesama jenisnya.
Jangan mencium atau berhubungan intim dengan orang yang anda tidak kenal.
Belajarlah dasar – dasar sanitasi dan penjernihan air.
Biasakanlah menggunakan senjata api, belajar menembak, dan membersihkan senjata api.
Selalu sediakan kotak P3K dan belajarlah untuk menggunakannya.
Carilah 5 orang sahabat yang anda percaya dalam radius 100mil dan selalu berkontak dengan mereka.
Ambilah salinan Undang – Undang Amerika Serikat dan bacalah.
Kurangilah kebiasaan makanan anda yang berlebihan.
Carilah sepeda dan 2 set ban cadangan, bersepedalah 10 mil setiap minggu.
Pikirkanlah kembali apa yang harus anda bawa jika kamu harus meninggalkan rumah dalam waktu 10 menit dan tidak akan pernah kembali lagi.

 

☆˚*★ Rusdianna KS ☆°*★ Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting